PEDAGANG KAKI LIMA DAN WEDANGAN di LINGKUNGAN TERMINAL TIRTONADI
Sejarah Berdiri
Sejarah berdirinya Pedagang Kaki Lima dan Wedangan di lingkungan Terminal Tirtonadi itu mulae reformasi kira – kira sekitar tahun 1998. Banyak pedagang menempati lahan kosong. Jadi mereka semua mendirikan bangunan tanpa izin dari pemerintah melainkan pada penguasa terminal saat itu. Penguasa itu mengaku bila tanah yang akan ditempati para PKL itu adalah miliknya dan orang lain disuruh menyewa dan orang lain disuruh menyewa. Mereka memanfaatkan trotoar, taman, dll sehingga lingkungan termina terihat berantakan tanpa adanya koordinasi. Serta para pedagang itu rugi akibat kepemilikan lahan itu.
Masalah kepemilikan tanah tersebut akhirnya bisa diselesaikan atas kepedulian kepala terminal. Mereka semua yang mengaku memeiliki tanah tersebut dikumpulkan menjadi satu dan dimintai pertanggungjawaban tetapi karena tidak bisa menunjukkan bukti sama sekali maka tanah itu diambil alih oleh pihak pemerintah. Dengan bantuan dari kepala termina maka orang-orang yang mengakui tanah tersebut sekarang sudah tidak meminta jatah pada PKL.
Setelah masalah tempat teratasi, para PKL membuat peraturan baru yaitu semua orang diberi kesempatan untuk berkarya. Entah para pedagang ama maupun yang baru. Bila ada pedagang yang pergi tanpa konfirmasi dari pengurus maka tempatnya boleh dimiliki oleh orang lai dan tidak ada hukumnya. Dan bila ada pedagang yang memakai tempat bukan miliknya maka pengurus maka pengurus berhak mengusirnya. Dan para pengurus berharap mereka semua tidak seenaknya saja karena telah diperjuangkan.
Akhirnya dibentuk kepengurusan, dengan tujuan untuk menyikapi keputusan pemerintah seperti penggurusan/relokasi terkait dengan perluasan termina bisa diatasi. Melalui musyawarah dengan pihak pengurus untuk menghasilkan kata sepakat. Jadi pemerintah juga harus konsekuen dengan memberi tempat baru pada para pedagang kaki lima.
Dan pada bulan Agustus 2010 kemarin para pengurus diundang di rumah dinas oeh wakil walikota dan disampaikan bahwa ada rencana perluasan terminal ke terminal. Dan dipilihnya ibu sebagai sekretaris karena dianggap paling tua dan memiliki pengalaman seperti pengurus RT. Dan beliau sendiri juga ingin para PKL terurus, beliau juga peduli karena mereka semua sudah mau diatur dan ditata dalam artian tidak sesukanya sendiri. Jika ada keputusan yang menyangkut pembangunan terminal mereka semua jangan sampai dirugikan.
Adanya kepengurusan juga diharapkan ada diskusi terlebih dahulu dengan pihak pengurus. Jadi bila ada apa-apa, PKL ada yang mengurusi dan bertanggung jawab. Mereka tidak lagi berantakan sudah ada koordinasi dan mau diatur sejak kira-kira tahun 2008.
A. Jumlah PKL
PKL di terminal Tirtonadi yang mempunyai kepengurusan berjumlah 20. Kiosnya ada 17, wedangan ada 2 dan yang 1 adalah ibu wahyu, beliau menjabat sebagai sekretaris para PKL. Semua tempat dibagi rata. Yang dulunya masih ada yang terlalu besar, terlalu kecil, dll. Maka sekarang semua tempat besarnya rata. Sedangkan mulai ditata sama rata ini sekitar tahun 2009. Dan sesuai program pak jokowi maka semua PKL minimal ada satu pot tanaman hias didepan kios masing-masing.
B. Biaya Retribusi
Setelah pemerintah melihat adanya peluang usaha dan bisa membuka lapangan kerja baru maka mereka semua diurus pemerintah dan diadakan retribusi. Mereka semua membayar retribusi kepada pemerintah setiap siang dan malam. Biaya retribusi pada siang hari sekitar Rp 1.500,- sedangkan malam hari sekitar Rp 1.000,-. Yang dikenakan tariff juaan hanya yang membuka kios dagangannya saja. Pungli juga tidak ada berkat kepedulan kepala terminal, pemerintah, dan masyarakat.
Untuk masalah harga, semjuanya tidak sama. Hanya saja harganya lebih murah daripada didlam terminal. Dan setiap kios jenis dagangannya tidak sama sehingga semua kios hampir tidak ada yang sepi. Semua penumpang rata – rata memilih makan diluar terminal. Pelanggannya seperti : TUkang Becak, Sopir Taksi,Penumpang, Tukang Ojek, Masyarakat kecil, Kru bis, dll.
Untuk menunjang kegiatan bersama, maka diadakan dana – dana yaitu : Iuran sosial Rp 2.500,- /buan, Konsumsi Rp 2.500,- /bulan, Arisan Rp 20.000,- /bulan, Iuran lain – lain Rp 7.500,- /bulan. Kegiatan – kegiatan yang biasa dilakukan ialah : Kerja bakti, Jalan sehat, dan puncak acaranya mengikuti terminal serta membayar iuran.
C. Kiat – kiat
Kiat – kiat pkl masih bisa bertahan sampai saat ini adalah mereka saling menjaga kerukunan. Dari awal mereka memounyai persepsi senasib, dan sama – sama menempati lahan pemerintah sehingga bila tidak akur maka pada saat aka nada penggusuran mereka semua tidak bisa apa – apa.
“Bakso Gandem Intisari”
A. Sejarah
Diatas adalah gambaran umum mengenai UKM pedagan ukm kaki lima dan wedangandi lingkungan terminal tirtonadi. Untuk lebih spesifiknya maka, kami mengmabil salah satu diantara mereka semua. Yaitu Bakso Gandem Intisari. Pemiik bakso ini adalah Bapak Gareng. Berasal dari Wononogiri. Usaha ini berdiri sekitar tahun 1998. Bapak Gareng disolo tidak sendirian. Beliau membawa anak, istri dan adiknya untuk diajak mencari makan bersama.
Saat pertama kali berdiri, Usaha bakso ini berada di pintu keluar terminal timur, dan sekarang berada di areal pedagang kaki lima yang telah disusun rapi.
B. Modal
Pada saat pertama kali berdiri Bapak Gareng menggunakan modal sendiri. Bapak Gareng pada saat itu memperoleh modal awal dengan menggadaekan tanahnya yang berada di desa dan mendapat uang sekitar +- Rp 2.000.000,-. Bahan masakanya memperoleh dari Pasar Nusukan. Untuk perlengkapannya seperti meja, kursi Bapak Gareng membuatnya sendiri.
C. Produk
Produk – produk yang dijual oleh Bapak Gareng sebenarnya tidak hanya saja bakso. Beliau menjual Soto Ayam dan Soto Daging, Nasi Sayur Aneka Macam yang setap hari selalu berganti, tempe, tahu, piya – piya, krupuk, fanta dan minuman lain.
Untuk harga produk masing – masing sekitar : Bakso Rp 5.000,-, Soto Ayam dan Soto Sapi Rp 3.500,-, Nasi Sayur Aneka Macam Rp 2.500,-, tempe, tahu, piya – piya, krupuk Rp 700,-, Fanta dan minuman lain sekitar Rp 2.500,-.
D. Pendapatan Bersih
Untuk masalah penghasian sebenarnya Bapak Gareng sudah mencukupi untuk menghidupi keluarganya. Pendapat kotor 1 hari biasanya kira – kira Rp 800.000,- Bersihnya mungkin sekitar Rp 500.000,- Itu semua sudah cukup untuk menghidupi keluarganya yang disolo dan yang ada di wonogiri.
Akan tetapi Bapak gareng tidak mengetahui keuntungan itu semua karena hasil jualan selalu digunakan Bapak gareng untuk modal dihari berikutnya. Oleh karena itu mungkin Bapak Gareng hmpir tidak pernah merasakn dari jerih payahnya selama ini. Dan tidak tahu berapa keuntungannya selama satu bulan.
E. Perkembangan Usaha
Setelah kami mengamati selama satu semester ini Bapak Gareng mengalami banyak peningkatan. Beliau berkembang pesat melebihi harapan kami. Beliau mendirikan cabang Bakso Gandem Intisari di Jakarta. Bapak Gareng juga memberi modal adiknya yang selama ini ikut jualan bakso dengan membuatkan usaha Es Tong – Tong keliling sebanyak 2 gerobak.
Selama jualan Bapak GAreng juga memiliki banyak aset, diantaranya memiliki 5 motor, yaitu : 2 Jupiter Z, Mio, Vega R, Ninja 150 R, serta Beliau juga mempunyai rumah di daerah kadipuro.
skip to main |
skip to sidebar
Disini gudangnya pengetahuan
About Me
- febrianto
- okelah.... aku memulai blog ini dari dasar.mohon maaf bila ada kekurangan.....
Entri Populer
-
Mendengar kabar dibukanya benteng pendem “Van Den Bosch” wisatawan luar maupun lokal mulai berdatangan untuk melihat kemegahan banguna...
-
PEDAGANG KAKI LIMA DAN WEDANGAN di LINGKUNGAN TERMINAL TIRTONADI Sejarah Berdiri Sejarah berdirinya Pedagang Kaki Lima dan Wedangan ...
-
GAGAL PMDK gagal dalam pmdk tahun 2010 ataupun sebelumnya itu sudah lumrah. Semua itu sudah menjadi asam manis dalam mencari perguruan ti...
-
berjilbab saat ini sudah menjadi trend sttter dalam era modern. namun ada juga yang menganggap sebagai sebuah simbolisme atau bahkan ad...
-
Belanda dan belanda............ Kondisi kehidupan masyarakat Belanda paling baik se Eropa. Demikian hasil penelitian miseré-index dari Bi...
-
Memang masyarakat kita punya kebiasaan mengisi ulang botol plastik. Alasannya, sayang membuang kemasan yang masih bagus. Padah...
-
BONEK OH BONEK Kami tak tahu, kapan kami mulai lahir...... Semuanya mengalir dan berjalan melintasi waktu Dengan apa adanya...... Samp...


1 komentar:
Mas, ditambah read more ja. Biar lebih enak....
Kunjung-kunjung ke blogku.....
Posting Komentar